Regional

blog post
Pendopo kabupaten Nganjuk yang biasa disebut  Sitihinggil, benar-benar menarik perhatian warga desa Ngepung, kecamatan Patianrowo. Dalam dua hari Senin dan Selasa (9 dan 10/9/2019) Sitihinggil yang dulu dikenal sacral, digeruduk ribuan warga desa Ngepung yang terbagi dalam dua kelompok.

Kelompok pertama, pada hari Senin siang (9/9/2019) rombongan warga desa Ngepung dan sebagian dari desa Ngrombot, kecamatan Patianrowo demo dengan maksud ingin bertemu Bupati Novi Rahman Hidayat. Kedatangan warga Ngepung ke pendopo ini bahkan sudah yang ke-4 kalinya. Mereka rela menempuh perjalanan jauh dan meninggalkan perkerjaan hanya ingin berdialog dengan AG-1 sehubungan temuan adanya dugaan penyalahgunaan dana BUMDES dan hasil lelang tanah bengkok perangkat desa.

Sebetulnya dua item kasus ini sudah dilaporkan ke tipikor Polres Nganjuk. Namun ratusan pendemo tetap ngotot ingin bertemu Bupati, diantaranya nagih janji diturunkannya tim audit dari inspektorat ke kantor desa Ngepung. Bahkan ketika kedatangan mereka diterima Wabup Marhen Djumadi yang konon telah memperoleh mandate dari Bupati, pendemo tetap kurang puas dan ingin langsung bertemu dengan Bupati.

Tragisnya, sampai demo yang ke-4 kalinya, warga dedsa Ngepung dan desa Ngrombot  tetap gigit jari. Ini disebabkan, menurut konfirmasi pejabat Pemkab, Bupati masih berada di Malang untuk chek-up kesehatan. Memperoleh informasi Bupati tidak bisa menemui mereka, para pendemo sangat jengkel. Mereka bertekad menduduki pendopo hingga esok harinya dan akan dilanjutkan orasi lagi sampai bisa bertemu AG-1.

Namun menjelang tengah malam  kang Marhen yang pada siang harinya sudah bertemu pendemo, kembali berada di tengah-tengah mereka. Setelah berdialog lesehan di pendopo, politisi PDIP ini pada kisaran jam 12.00 WIB berhasil membujuk pendemo untuk pulang ke rumah masing-masing. Sementara petugas dari Polri, TNI dan satpol PP terus  memberikan pengamanan di dalam dan luar pendopo. Akhirnya mereka meninggalkan lingkungan kantor Pemkab dengan damai, tidak ada insiden yang melanggar hukum.

Sementara kurang dari 12 jam setelah kepulangan pendemo warga Ngepung kloter pertama, pada Selasa siang (10/9/2019) pendemo kloter ke-2 juga menggeruduk pendopo. Kedatangan kloter ke-2 ini jumlahnya lebih besar. Tampak puluhan truk, mobil pribadi dan sepeda motor memadati lingkar jalan seputar alun-alun. Pantauan LensaMata.com di sekitar lokasi para pendemo tidak hanya datang dari desa Ngepung. Sebagian juga dari desa-desa lain yang tidak terkait secara langsung dengan persoalan di desa Ngepung.

Diantara berjubelnya pendemo di jalan depan pendopo, selain warga biasa tampak juga puluhan kades berada di tengah-tengah mereka.  Para kades yang hadir, tergabung dalam AKD (Asosiasi Kepala Desa) kabupaten Nganjuk. Mereka tidak sekedar penggembira tetapi juga menjadi orator secara bergantian.  Para kades diantaranya Syarif Hidayatullah, kades desa Sambiroto, kecamatan Baron tampak berapi-api menyampaikan orasinya. Pada umumnya para orator mengusung tema perdamaian, tidak membuat permusuhan horizontal dan pro-penegakan hukum menuju Nganjuk yang kondusif.

Meski dua demo yang dilakukan oleh dua kelompok dalam waktu yang berhimpitan, para pentolan AKD menolak jika aksi demo kali ini merupakan “tandingan” dari demo yang terjadi sehari sebelumnya, meskipun sasaran utama kasus di desa Ngepung. Ketua AKD Nganjuk Dedy Nawan kepada pers mengatakan, pihaknya tidak bermaksud membuat demo tandingan. Aksi ini, kata kades Gejakan, kecamatan Loceret ini, sebagai bentuk solidaritas sesama kades yang menginginkan suasana Nganjuk damai dengan tetap menghormati hukum yang berlaku.

“Kami tidak mendukung pihak-pihak yang berselisih di desa Ngepung. Kami justru menjadi jembatan agar persoalan yang terjadi di desa salah satu anggota AKD bisa diselesaikan dengan baik. Jika memang ada bukti secara yuridis ya kita serahkan ke APH, sebaliknya jika tidak ada bukti harus cepat diakhiri. Hukum tidak bisa ditegakkan dengan prinsip pokoke ”, ujar Dedy seusai demo.

Di saat yang sama, wabup Marhen Djumadi mewakili Bupati berjanji akan menyelasaikan kasus di desa Ngepung secara transparan. Tidak ada hal yang ditutup-tutupi apalagi juga sudah masuk proses hukum di tipikor Polres. , Namun, tambah Marhen, peranan media dalam situasi seperti ini sangat strategis.

“Tolong media bisa menulis yang berimbang supaya tidak menimbulkan  persoalan yang lebih panas. Saya tahu teman-teman wartawan kalau nulis berita pasti mencari angle yang menarik perhatian pembaca, tetapi tolong sekali lagi tetap mengedepankan kedamaian. Karena tulisan anda ini bisa punya dampak luas di masyarakat”, ujar Marhen kepada pers.
  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar