Nasional

blog post
PR Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menuntaskan kasus tindak pidana pencucian uang  (TPPU) yang sudah ”tenggelam” hampir dua tahun, kini mulai diintesifkan lagi proses penyidikannya.

Puluhan pejabat OPD di Pemkab Nganjuk, kontraktor dan para legislator sudah menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Terakhir yang sempat terendus pers, kehadiran Ita Tribawati atau yang populer dipanggil bunda Ita di gedung Merah Putih KPK, Jaksel, juga diperiksa sebagai saksi.

Kehadiran bunda Ita di depan penyidik sangat penting karena posisi bunda Ita sebagai isteri ”tersangka tunggal” dalam kasus TPPU eks Bupati Taufiqurrqhman atau biasa dipanggil Taufik. Sebagai pendamping utama suami, diduga kuat isteri adalah orang yang paling tahu penggunaan uang suami yang berasal dari hasil korupsi. Penyidik KPK akan mengkonfirmasi fakta-fakta yang sudah dikantongi dalam penyidikan sebelumnya.

Tapi benarkah Taufik akan menjadi tersangka tunggal dalam kasus TPPU ini ?

Sejauh ini memang belum ada konfirmasi resmi dari KPK terkait kemungkinan munculnya tersangka baru. Redaksi LensaMata.com mencoba memperoleh penjelasan dari jubir KPK Febri Diansyah belum berhasil.

Namun informasi yang berkembang di lapangan sudah hampir pasti ada tambahan tersangka baru. Mereka bisa berasal dari pejabat di OPD yang selama masa pemerintahan Taufik sangat dekat dan dipercaya, anggota legislatif dan kontraktor.

Pantauan LensaMata.com, pihak yang berpotensi menjadi tersangka baru diduga kuat ikut menjadi perantara/ koordinator pengumpulan uang dan membantu membeli aset yang diduga dari uang hasil korupsi.

Sementara dihubungi Purwanto wartawan LensaMata.com, direktur Lembaga Kajian Hukum dan Kebijakan Publik SINTARA INSTITUTE, Gundi Sintara, SH MH mengatakan, kejahatan kerah putih (white collar crime) seperti korupsi tidak bisa dilakukan seorang diri. Selalu melibatkan lebih dari seorang.

”Persoalannya siapa yang akan diseret penyidik KPK untuk mendampingi pak Taufik. Kalau kasat mata siiii .. sudah bisa dibaca, tetapi secara yuridis tidak bisa diungkap ke publik sebelum ada penetapan resmi dari KPK”, ujar advokat jebolan FH UB Malang ini.

Menurut Gundi Sintara, pihaknya justru heran jika KPK sampai sekarang hanya menyita satu aset milik mantan Bupati yang berada di Nganjuk berupa tanah di Ngetos.  Tim penyidik KPK perlu lebih kerja keras lagi untuk melakukan investigasi di lapangan.

”Makanya ada dua hal yang perlu dicermati dalam kasus ini yakni masih tersangka tunggal dan minimnya aset yang disita di Nganjuk. Saya tidak tahu data resminya di penyidik”, lanjut mantan capim KPK periode 2019-2023 ini.

Munculnya berita pemeriksaan bunda Ita di KPK ternyata menjadi viral di lingkungan pejabat Pemkab Nganjuk. Khabar ini masih pro kontra, ada yang percaya dan tidak sedikit yang masih ragu.

Redaksi LensaMata.com memperoleh beberapa kiriman sms WhatsApp menanyakan kebenaran link berita yang diunggah di media online LensaMata.com. Bisa jadi banyak pejabat yang sport jantung jika perkara ini dibuka kembali dan segera dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor.
  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar