Hukum

blog post
Sidang pada tahap pembuktian sengketa Pilkades desa Pacewetan, kecamatan Pace, kabupaten Nganjuk makin memanas. Muncul fakta baru yang terungkap dari keterangan saksi dalam 2 kali persidangan di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) Surabaya.

Tiga saksi yang sudah diperiksa dalam dua kali sidang pada hari Rabu (12 dan 19 Februari 2020) baru dari pihak penggugat. Satu saksi dari para tergugat yakni Siti Romlah gagal memberikan keterangan karena ditolak oleh kuasa hukum penggugat advokat Gundi Sintara, SH MH karena posisi saksi sekretaris panitia pemilihan.

Dalam sesi pemeriksaan saksi juga terjadi hujan interupsi dari kuasa hukum para tergugat (panitia pemilihan, tim pengawas dan Bupati) advokat Adi Wibowo, SH MSi. Meskipun interupsi beberapa kali juga dimentahkan oleh ketua Majelis Hakim.

Fakta baru yang sebelumnya tertutup rapat terkait netralitas dan independensi panitia pemilihan dalam menyikapi keberatan Imam Mughni, bakal calon kades yang didiskualifikasi oleh panitia karena ada surat rekomendasi dari ketua PN Nganjuk.

Pada sidang hari Rabu (12/2/2020) terungkap, panitia pernah berjanji kepada saksi Aditya, akan memasukkan IM lagi sebagai calon kades jika surat ketua PN Nganjuk (surat no W14-U27/1780/Hk.03/XI/2019) dicabut. Namun faktanya surat ketua PN Nganjuk benar dicabut setelah GS melayangkan klarifikasi ke PN Nganjuk ternyata panitia ingkar janji, tidak memasukkan IM sebagai calon kades.

Menurut saksi Aditya, ketua panitia Darmaji mengaku pihaknya tidak mampu menahan intervensi camat Pace dan Kabag Hukum Pemkab untuk tetap mendiskualifikasi IM. Pengakuan Darmaji ini disampaikan setelah ditagih janjinya di warung soto dok Ploso Nganjuk.

Keterangan Aditya diperkuat lagi oleh saksi Yani Purwanto yang diperiksa pada sidang hari Rabu (19/2/2020). Kata Yani Purwanto, pernyataan adanya Intervensi camat Pace dan Kabag Hukum Pemkab Nganjuk itu disampaikan Darmaji Di depan 5 orang saat sama-sama makan siang.

"Saat itu ada Darmaji, Aditya, saya sendiri, mbah Imam Mughni dan 2 orang teman Darmaji saya tidak tahu namanya", kata sekretaris DPC partai Nasdem Nganjuk ini.

Menjawab cecaran pertanyaan advokat GS, apa reaksi saksi mendengar pengakuan ketua panitia, saksi sebagai teman Darmaji sempat memberikan saran atau masukan.

"Saya memberi masukan kepada Darmaji daripada terlalu berat menanggung beban apa tidak sebaiknya mundur saja. Toh kalau ada apa-apa resiko hukumnya kamu yang akan menanggung", ujar mantan ketua panitia Pilkades desa Plosoharjo, Pace ini.

Saat mendengar masukan untuk mundur dari kepanitiaan, lanjut saksi, Darmaji tidak menjawab atau menanggapi secara lisan. Dua orang temannya juga tidak bereaksi. Selama hampir 45 menit memberikan keterangan, saksi sempat 2 kali dinterupsi oleh advokat Adi Wibowo. Namun saksi tampak tegar dan tenang meskipun menghadapi pertanyaan bertubi-tubi dari kuasa hukum penggugat, 3 kuasa hukum tergugat dan ketua Majelis Hakim.

Sidang berikutnya akan digelar lagi pada Rabu (26/2/2020) dengan agenda memeriksa saksi yang diajukan kuasa hukum para tergugat.
  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar