Ekonomi

blog post
By Gundi Sintara, SH MH

 

Tahun 2004 saya dilantilk menjadi anggota DPRD Nganjuk periode 2004 – 2009. Setelah resmi duduk menjadi pejabat di lembaga Legislatif, saya mulai melirik soal koperasi “bank plecit” ini. Berbulan-bulan saya berfikir dan kadang mengajak diskusi teman-teman di fraksi (saya kebetulan ketua fraksi Gabungan yang terdiri 3 parpol yakni PAN, PKPB dan PPP), bagaimana caranya untuk meminimalisir dominasi koperasi “bank plecit” yang sudah merajalela di setiap sudut desa dan kota di Nganjuk ini.

 

Bukan berarti saya tidak tahu, ide yang mulai bercokol di otak ini bukan pekerjaan ringan. Pasti akan menghadapi hambatan, tantangan dan bahkan perlawanan yang keras dari kelompok kepentingan (vested interest). Kelompok selama ini sangat diuntungkan dan merasa nyaman terhadap lahir dan merebaknya koperasi “bank plecit” ini. Mereka berasal dari swasta maupun pejabat pemerintah. Mereka minoritas tetapi memiliki power karena memegang kendali di birokrasi dan memiliki uang.

 

Sebelum melangkah yang harus dipahami tentu apa dan bagaimana obyek yang akan menjadi sasaran. Untuk mengetahui seluk beluk dan memperdalam pengetahuan tentang badan usaha ini kadang saya juga berdialog dengan para PL yang kebetulan ketemu di warkop/ took kelontong mereka lagi narik cicilan atau realisasi pinjaman. Banyak cara dilakukan agar para PL secara sukarela memberi informasi seputar koperasi “bank plecit”, yang belum saya ketahui.

 

Sebagai wakil rakyat tentu sudah menjadi kewjiban untuk membantu warga yang terus terpapar menjadi korban keganasan koperasi “bank plecit”. Sekilas mereka memang membantu warga yang betul-betul membutuhkan bantuan yang cepat. Tapi di sisi lain tarif bunga yang rata-rata 10% per bulan bahkan bisa lebih, apa artinya bantuan itu jika pada akhirnya nasabah makin tercekik lehernya. Faktanya sekali warga terlilit hutang rentenir, sangat sulit bisa melepaskan diri. Karena pendapatan keluarga setiap hari/ bulan tidak mampu menutup cicilan pokok dan bunga.

 

Banyak nasabah terpaksa harus kehilangan tanah dan/ atau rumah tinggal yang akhirnya  (meninggalkan kampung halaman) karena terlilit hutang bunga berbunga. Mereka tidak mampu menanggung beban yang terus menumpuk, tiap hari didatangi PL dan malu dengan tetangga sekitar. Harta benda satu-satunya yang mereka miliki harus rela dijual untuk menutup hutang. Karena kalau tidak demikian, beban nasabah dari hari ke hari  justru akan semakin berat.

 

Dalam hati kecil, saya yang berada di lingkaran kekuasaan (legislative) merasa sangat bersalah jika hanya diam. Di sisi lain sudah bertahun-tahun hampir setiap hari menyaksikan dengan mata telanjang ada kelompok masyarakat yang sangat lemah terus terdlolimi oleh segelintir pengusaha egois sang pemburu rente. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang legislator yang bekerja dan mengambil keputusan secara kolektif kolegial.

 

Sementara yang dihadapi sudah sebuah kekuatan yang sudah menggurita hingga ke jantung kekuasaan. Tentu sangat kuat dan kokoh. Realitanya meski mendapat tekanan public yang cukup massif, usaha sejenis terus berkembang. Ini tidak akan bisa terjadi tanpa proteksi dari kekuasaan. Asumsi sederhana ini tentu tidak ada salahnya. Tapi memelihara sikap pesimisme sama artinya kita berdamai dengan jiwa yang hipokrit (munafik). Bukankah agama Islam mengajarkan, “katakan yang benar meskipun pahit”. Pasti banyak jalan menuju Roma.

 

Suatu hari pada awal bulan Maret 2005 sekira jam 09.00 WIB saya kebetulan ngopi di sebuah warung sederhana di desa Jogomerto, kecamatan Tanjunganom. Melihat tampilan fisiknya, warung itu tentu sudah berusia puluhan tahun. Bisa jadi lebih tua dari usia saya. Keadaannya memang sangat sederhana, luasnya tidak lebih 2m x 3m, plester temboknya sudah banyak yang keropos, warna cat kapur (gamping) sudah pudar dan nyaris hilang karena tiap hari kena gesekan baju/ kulit punggung pelanggan setianya sehingga berganti hitam kecoklatan.

 

Pemandangan ini sangat serasi dengan kondisi pisik tukang warungnya seorang janda tua, yang kemudian saya ketahui dari obrolan dengan pembeli lain bernama Mbah Murni, usia kurang lebih 75 tahun. Mbah Murni menjaga warungnya sendirian. Katanya, suaminya lima tahun lalu meninggal dunia karena sakit TBC (tubercolusis), sementara dua anak perempuannya sudah menikah dan hidup mandiri di luar kota. Anak cucunya  hanya dua atau tiga kali setahun sambang kampung. Pada hari raya Idul Fitri, usai panen atau ketika mendapat kabar Mbah Murni sedang sakit.

 

Mbah Murni harus hidup dan mengais rejeki sendirian, dengan bekal sebuah warung  yang berdiri di pinggir jalan poros kecamatan Baron - Tanjunganom. Warung itu juga menjadi satu-satunya sumber pendapatan sehari-hari, setelah ditinggal mati suami tercintanya. Syukurlah kopi Mbah Murni memang cukup nyampleng ditambah gorengan pisang atau singkong yang selalu hangat. Tapi jangan coba-coba bagi yang tidak terbiasa minum kopi murni, alias suka minum kopi nggereng (angger ireng = asal hitam) ataupun penderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Sekali seruput kopi Mbah Murni kepala bisa langsung pusing pertanda tekanan darah naik pengaruh dari racun kafein.

 

Bila berkelanjutan, bisa jadi akan melibatkan dokter yang angkosnya tidak sebanding dengan harga secangkir kopi. Trade-mark kopi Mbah Murni yang “cukup galak” sudah terkenal seantero desa, sehingga kalau pagi dan sore hari pelanggannya terus berdatangan. Rata-rata penggemarnya generasi old yang sudah terlanjur kecanduan kopi Mbah Murni. Sulit berpaling ke warkop lain.

 

Di tengah menikmati kopi murni dan seiris singkong goreng kesukaan saya, datanglah seorang PL dari suatu KSP yang konon berkantor pusat di kota Kediri. Pucuk dicinta ulam tiba. Maksud hati saya ngopi dari warung ke warung sesungguhnya hanya berpetualang i untuk mencari tahu lebih dalam tentang hal ikhwal yang terkait koperasi “bank plecit”. Ilmu saya terkait hal ikhwal koperasi “bank plecit” masih perlu ditambah lagi. Informasi dari tetangga rumah belum cukup, masih perlu menggali dari sumber lain agar lebih lengkap.

 

Lewat forum ngopi nyantai bisa menjadi wahana mencari informasi dan data langsung dari sumber pelaku sendiri, wakil kreditur (PL) dan debitur (nasabah). Saat menikmati ngopi nyampleng di warung sederhana Mbah Murni sekira jam 09.20 WIB tiba-tiba Tuhan mempertemukan saya langsung dengan calon narasumber yang amat sangat valid. Gambling saya ternyata tepat, karena pada jam antara 09.00 WIB hingga jam 12.00 WIB para PL mulai beroperasi menemui para nasabahnya.

 

Tampaknya PL yang berdandan necis ini, merupakan PL pertama di hari itu yang masuk di warung Mbah Murni. Ini suatu kemenangan. Biasanya antar PL dari lembaga yang berbeda selalu bersaing adu cepat ke rumah nasabah. Mereka saling berusaha mendahului. Yang datang lebih dahulu lebih memiliki peluang mendapat uang cicilan. Asal jangan terlalu pagi, kalau terlalu pagi nasabah bisa marah lantaran belum pegang uang. Mangapa harus berebut lebih dahulu bertemu nasabah ? Ternyata yang begini juga ada maksudnya. Realita membuktikan, banyak nasabah yang memiliki tanggungan pinjaman di lebih dari satu lembaga kreditur. Ketika debitur tidak memiliki dana yang cukup untuk menutup semua angsuran harian, maka yang diprioritaskan PL yang datang lebih dulu. PL yang datang belakangan dipastikan akan gigit jari.

 

Hubungan mbah Murni dengan PL ini ternyata sudah sangat akrab. Hal ini terbaca dari gestur tubuh dan dialog antara PL dengan Mbah Murni. Mungkin Mbah Murni nasabah lama yang cukup setia. “Nggak ngopi mas”, sapa Mbah Murni kepada PL laki-laki 30-an tahun. Yang ditawari tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya pelan. Baru beberapa menit melempar pantatnya di kursi panjang, si PL langsung membuka buku kecil tapi tebal. Saat dibuka, didalamnya tampak ada puluhan lembar kartu yang mereka sebut “promes” dan pecahan Rp 100.000, Rp 50.000 dan  Rp 20.000-an.  

 

*) Gundi Sintara SH MH seorang

     Advokat dan direktur Lembaga

     Kajian Hukum dan Kebijakan Publik

     “SINTARA INSTITUTE”.

  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar